
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ، وَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ أَحَبَّ اللَّهَ وَأَطَاعَهُ، وَخَيْرُ مَنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَهَدَى إِلَى صِرَاطِهِ الْمُسْتَقِيمِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قال الله تعالى في كتابه الكريم: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada banyak hal dalam hidup ini yang dapat membuat manusia merasa bahagia. Ada yang bahagia karena memiliki harta, kedudukan, keluarga, ilmu, popularitas, atau keberhasilan dalam kehidupan. Tetapi tahukah kita bahwa ada satu kebahagiaan yang jauh lebih tinggi nilainya daripada semua itu, yaitu kebahagiaan ketika seseorang mencintai Rasulullah ﷺ dan berharap dirinya termasuk orang yang dicintai oleh beliau.
Al-Qur’an telah mengajarkan kita tentang bagaimana memaknai cinta yang sesungguhnya. Seperti yang diriwayatkan dalam Tafsir Ath-Thabari ketika ada sekelompok orang yang mengaku kepada Nabi bahwa mereka mencintai Allah lalu mereka berkata:
” يا محمّد، إنّا نُحبّ ربّنا “
“Sungguh kami mencintai Tuhan kami!”
Lalu apa yang Allah perintahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW? Dalam surat Al-Imran ayat 31, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فأنزل الله عز وجل: ” قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ” ، فجعل اتباع نبيه محمد صلى الله عليه وسلم عَلَمًا لحبه، وعذاب من خالفه
“Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 31)
Dengan demikian. Allah menjadikan perintah mengikuti Nabi-Nya, Baginda Rasulallah ﷺ sebagai tanda cinta seorang hamba kepada-Nya sekaligus sebagai dasar ancaman bagi siapapun orang yang menyelisihi beliau.
Perhatikan baik-baik ayat ini!
Allah tidak menjadikan cinta sebagai sekadar pengakuan. Allah memberikan ukuran cinta: فَاتَّبِعُونِي “maka ikutilah aku.”
Karena itu, orang yang mencintai Rasulullah ﷺ tentu akan berusaha menghadirkan Rasulullah dalam kehidupannya: dalam cara berbicara, dalam cara memperlakukan keluarga, dalam cara mendidik anak, dalam cara mencari rezeki, dalam cara menghadapi perbedaan, bahkan dalam cara memperlakukan orang yang tidak menyukainya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.”
Dalam Syarh Qomi’ Al-Thugyan, Syeikh Nawawi Al-Bantani menerangkan bahwa:
حبّ الرسول هو عين حب الله تعالى وكذلك حب العلماء والأتقياء لأنّ الله تعالى يحبهم وهم يحبونه وكل ذلك يرجع إلى حب الأصل
“Mencintai Rasulullah ﷺ pada hakikatnya adalah mencintai Allah Ta‘ala. Demikian pula mencintai para ulama dan orang-orang yang bertakwa, karena Allah Ta‘ala mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya. Semua itu pada akhirnya kembali kepada kecintaan kepada sumber dan asal cinta, yaitu Allah Ta‘ala.”
Dua keterangan ini menunjukkan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan aksesori dalam kehidupan seorang Muslim. Ia merupakan bagian dari kesempurnaan iman.
Maka yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana kita mengetahui bahwa kita benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ? Jawabannya adalah seberapa jauh kehidupan kita berubah karena Rasulullah ﷺ
Jika kita mencintai Rasulullah tetapi lisan kita masih mudah menyakiti orang lain, maka cinta itu harus kita evaluasi. Jika kita mengaku mencintai Rasulullah tetapi mudah merendahkan sesama Muslim, maka kita perlu kembali belajar akhlak beliau. Jika kita banyak bershalawat tetapi tidak berusaha meninggalkan kebohongan, kedzaliman, kesombongan, dan pengkhianatan, maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana cinta itu benar-benar hidup dalam diri kita?
Sebab Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana beribadah kepada Allah, akan tetapi beliau juga mengajarkan kepada umatnya bagaimana menjadi seorang manusia dan memperlakukan manusia serta makhluk lainnya dengan baik.
Ajaran beliau untuk bersikap lemah lembut kepada orang lain, kasih sayang kepada keluarga, penghormatan kepada orang tua, kepedulian kepada tetangga, kejujuran dalam perdagangan, amanah dalam kepemimpinan, dan kesabaran ketika menghadapi keburukan. Maka mencintai Rasulullah ﷺ itu berarti berusaha menghidupkan akhlak Rasulullah di tengah kehidupan kita karena warisan yang beliau berikan kepada umatnya adalah warisan Akhlaqul Karimah atau Akhlak yang mulia.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada satu hal menarik dari kehidupan para sahabat yang bisa kita ambil hikmahnya. Kecintaan mereka kepada Rasulullah ﷺ tentu bukan cinta yang abstrak. Cinta itu membuat mereka memperhatikan bahkan hal-hal kecil yang berkaitan dengan Baginda Rasulullah ﷺ.
Misalnya dalam al-Muwaṭṭa’ (1/216 (35), Imam Mālik meriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā pernah datang ke sebuah wilayah kaum Anshar dan bertanya kepada penduduknya tentang tempat Rasulullah ﷺ pernah melaksanakan salat di masjid mereka. Ketika ditunjukkan tempatnya, Ibn ‘Umar kemudian menanyakan tiga doa yang pernah dipanjatkan Rasulullah ﷺ di tempat tersebut.
Jamaah sekalian. Ibn ‘Umar bukan hanya ingin mengetahui apa yang dikatakan Rasulullah tapi ia juga memperhatikan di mana Rasulullah pernah berdiri, di mana beliau pernah salat, dan bagaimana beliau menjalani kehidupannya.
Para ulama seperti Ibn ‘Abd al-Barr menjelaskan bahwa hal tersebut menunjukkan betapa kuatnya kecintaan dan keteladanan Ibn ‘Umar kepada Rasulullah ﷺ.
Begitu pula dalam berbagai riwayat tentang Imam Aḥmad bin Ḥanbal, kita menemukan gambaran kecintaan ulama terdahulu terhadap peninggalan Rasulullah ﷺ. Mereka memperlakukan apa yang berkaitan dengan Rasulullah dengan penuh penghormatan.
Ini mengajarkan kepada kita satu hal penting bahwa “Cinta selalu melahirkan penghormatan.”
Seperti yang dinadzomkan oleh Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani:
واحبب نبيك ثمّ عظّم قدره وابخل بدينك ما يرى بك مأثم
“Cintailah Nabimu, kemudian muliakanlah kedudukannya; dan jagalah agamamu dengan segenap kehormatan, jangan biarkan dosa tampak pada dirimu”
Orang yang mencintai Nabi akan memuliakan kedudukannya, menjaga adab saat menyebut nama beliau, mau mendengarkan hadits beliau, mengikuti sunnah dan ajaran beliau dan mau memperbanyak sholawat kepada beliau sebagaimana yang disabdakan dalam suatu hadits. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً
“Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku.”
Oleh karenanya, mari kita juga terus memperbanyak shalawat. Basahilah lisan-lisan kita dengan dzikr dan sholawat, dan buktikanlah kecintaan kita kepadanya dengan akhlak yang mulia, yang beliau ajarkan dalam sunnah-sunnahnya.
Semoga Allah menjadikan kita umat yang mencintai Rasulullah ﷺ dengan cinta yang benar, mengikuti sunnahnya dengan ilmu, menghidupkan akhlaknya dalam kehidupan, dan kelak dikumpulkan bersama beliau di surga.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ
فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
Oleh : (MIW)


