Call Us
085787679868

Email Us
info@nurulquranbogor.com

RAMADAN: MADRASAH TAKWA DAN PENDIDIKAN JIWA

Bagikan:

الحمد لله رب العالمين، الحمد لله الذي فرض الصيام على المؤمنين، وجعله مدرسةً للتقوى وتهذيب النفوس وتزكية القلوب، أحمده سبحانه وأشكره على نعمه التي لا تحصى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، شهادةً نرجو بها النجاة يوم الدين، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، إمام المتقين وسيد المرسلين. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فإن تقوى الله خير زاد، قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kita sedang berada di hadapan sebuah bulan yang sangat istimewa: bulan Ramadan. Bulan yang kedatangannya selalu kita rindukan, tetapi sering kali berlalu begitu cepat. Bulan yang di dalamnya kita menahan lapar dan dahaga, memperbanyak membaca Al-Qur’an, memperbanyak salat, bersedekah, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri kita masing-masing:

Apa sebenarnya yang Allah kehendaki dari puasa kita? Apakah sekadar menahan lapar? Apakah sekadar mengubah jadwal makan? Apakah sekadar menyelesaikan kewajiban selama satu bulan? Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat jelas.

Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183)

Perhatikan akhir ayat ini. Allah tidak mengatakan:

لَعَلَّكُمْ تَجُوعُونَ

“agar kalian menjadi lapar.”

Allah tidak mengatakan:

لَعَلَّكُمْ تَتْعَبُونَ

“agar kalian menjadi lelah.”

Tetapi Allah berfirman:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kalian bertakwa.”

Inilah tujuan utama Ramadan. Maka Ramadan sesungguhnya bukan hanya bulan menahan makan dan minum, tetapi bulan pendidikan jiwa.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Puasa adalah salah satu rukun Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, menunaikan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Puasa Ramadan diwajibkan pada tahun kedua Hijriah. Rasulullah ﷺ kemudian menjalankan ibadah puasa Ramadan hingga wafat, dan selama hidupnya beliau sempat menjalankan sembilan kali Ramadan. Artinya, puasa bukan ibadah tambahan yang boleh dianggap ringan. Ia adalah salah satu fondasi kehidupan seorang Muslim. Tetapi sebagaimana semua ibadah dalam Islam, ukuran keberhasilannya bukan hanya apakah kita telah melaksanakannya secara formal.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apa yang terjadi pada diri kita setelah melaksanakannya?

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ramadan adalah madrasah pengendalian diri. Kita sebenarnya boleh makan. Tetapi kita belajar mengatakan: “Tidak, belum waktunya.” Kita sebenarnya boleh minum. Tetapi kita belajar menahan diri. Makanan ada di depan mata. Air tersedia. Tidak ada manusia yang mungkin mengetahui jika kita diam-diam makan atau minum. Tetapi kita tidak melakukannya.

Mengapa?

Karena kita sadar: Allah melihat kita. Di sinilah letak pendidikan Ramadan yang sangat dalam. Puasa mendidik kita untuk melakukan kebaikan bukan hanya ketika manusia melihat, tetapi juga ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Karena itu, puasa sebenarnya sedang membangun kesadaran ihsan. Kesadaran bahwa hidup kita selalu berada dalam pengawasan Allah. Kita bisa bersembunyi dari manusia. Tetapi kita tidak pernah bisa bersembunyi dari Allah.

Kita bisa menghapus riwayat percakapan dari telepon. Kita bisa menyembunyikan kesalahan dari pasangan. Kita bisa menyembunyikan dosa dari orang tua. Kita bisa membangun citra yang baik di hadapan masyarakat. Tetapi tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari Allah.

Allah berfirman:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dia bersama kalian di mana pun kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. al-Hadid: 4)

Maka Ramadan mengajarkan sebuah prinsip sederhana: Jadilah baik bukan karena sedang dilihat manusia, tetapi karena selalu merasa dilihat Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada pendidikan lain yang sangat penting dari puasa: pendidikan melawan hawa nafsu. Manusia tidak hanya memiliki kebutuhan, tetapi juga keinginan. Dan tidak semua yang kita inginkan harus kita ikuti. Inilah persoalan besar manusia modern. Kita hidup di zaman yang hampir setiap keinginan dapat segera dipenuhi. Ingin makan, pesan melalui aplikasi. Ingin membeli sesuatu, cukup beberapa sentuhan di layar. Ingin berbicara, tinggal membuka media sosial. Ingin mendapatkan hiburan, semuanya tersedia. Teknologi berkembang untuk memudahkan manusia. Tetapi kemudahan yang tidak disertai kemampuan mengendalikan diri dapat berubah menjadi ketergantungan.

Karena itu, Ramadan datang setiap tahun untuk mengajarkan kita satu kemampuan yang sangat mahal: kemampuan mengatakan “tidak” kepada diri sendiri. Tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki. Tidak semua yang kita dengar harus kita komentari. Tidak semua yang kita lihat harus kita ikuti. Tidak semua yang membuat kita marah harus kita balas. Tidak semua yang bisa kita lakukan berarti pantas kita lakukan.

Inilah makna penting dari mujāhadah al-nafs—bersungguh-sungguh mendidik dan mengendalikan diri. Puasa bukan sekadar mengosongkan perut. Puasa adalah melatih kehendak.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Karena itu, jangan sampai tubuh kita berpuasa tetapi lisan kita tidak berpuasa. Jangan sampai perut kita menahan makanan, tetapi mulut kita bebas menyakiti manusia. Jangan sampai kita menahan minum, tetapi kita tidak mampu menahan amarah. Jangan sampai kita menahan syahwat, tetapi kita tidak mampu menahan kebencian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dusta, dan kebodohan, maka Allah tidak membutuhkan dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. al-Bukhari)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa puasa memiliki dimensi moral. Puasa seharusnya mengubah cara kita berbicara. Cara kita bekerja. Cara kita memperlakukan pasangan. Cara kita mendidik anak. Cara kita memperlakukan bawahan. Cara kita berinteraksi dengan tetangga. Bahkan cara kita menggunakan media sosial.

Jika Ramadan membuat kita semakin mudah memaafkan, berarti ada sesuatu yang sedang tumbuh dalam diri kita. Jika Ramadan membuat kita lebih mampu menahan amarah, berarti ada pendidikan yang sedang bekerja. Jika Ramadan membuat kita semakin takut berbohong, berarti puasa mulai menyentuh jiwa. Tetapi jika setelah Ramadan kita masih mudah menghina, memfitnah, berdusta, menzalimi, dan menyakiti sesama, maka kita perlu bertanya: Apakah yang kita latih selama Ramadan hanya perut, atau juga hati kita?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ramadan juga merupakan madrasah kepedulian sosial.

Ketika orang kaya merasakan lapar, ia belajar memahami orang yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Ketika seseorang yang hidup berkecukupan menahan dahaga, ia belajar bahwa bagi sebagian manusia, mendapatkan makanan yang cukup bukan sesuatu yang mudah. Karena itu, puasa seharusnya melahirkan empati.

Bukan sekadar: “Saya lapar.” Tetapi: “Ada orang yang setiap hari hidup dalam kelaparan.” Bukan sekadar: “Saya haus.” Tetapi: “Ada saudara kita yang bahkan tidak memiliki air dan makanan yang cukup.” Maka Ramadan seharusnya membuat tangan kita lebih ringan untuk memberi.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ۝ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanyalah untuk mengharap keridaan Allah; kami tidak mengharap balasan dan ucapan terima kasih dari kalian.” (QS. al-Insan: 8–9)

Karena itu, Ramadan tidak boleh hanya membuat hubungan kita dengan Allah menjadi lebih dekat. Ramadan juga harus membuat hubungan kita dengan manusia menjadi lebih baik.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di sinilah kita memahami bahwa puasa bukan hanya ibadah individual. Ia juga memiliki dimensi sosial. Kita berbuka bersama. Kita salat tarawih bersama. Kita bersedekah. Kita membayar zakat. Kita menunaikan zakat fitrah. Kita saling mengunjungi. Kita saling memaafkan.

Orang kaya belajar memberi. Orang yang kekurangan menerima dengan kehormatan. Yang kuat belajar mengasihi. Yang lemah merasakan bahwa dirinya tidak sendirian. Maka Ramadan sebenarnya sedang membangun persaudaraan umat. Kita berasal dari keluarga yang berbeda.

Profesi kita berbeda. Pendidikan kita berbeda. Status sosial kita berbeda. Tetapi ketika azan Magrib berkumandang, kita semua memiliki kebutuhan yang sama: kita semua membutuhkan Allah.

Di hadapan Allah, tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa pertolongan-Nya. Karena itu, Ramadan mengajarkan kita untuk mengikis kesombongan sosial. Kita boleh memiliki jabatan tinggi. Kita boleh memiliki harta. Kita boleh memiliki ilmu. Tetapi ketika matahari terbenam, kita tetap menunggu satu hal yang sama: izin Allah untuk berbuka.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ramadan juga merupakan bulan Al-Qur’an. Allah Ta‘ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. al-Baqarah: 185)

Karena itu, jangan sampai Ramadan hanya menjadi bulan perubahan pola makan, tetapi tidak menjadi bulan perubahan pola pikir. Bacalah Al-Qur’an. Tetapi jangan hanya mengejar berapa kali khatam. Tanyakan pula: Apa yang berubah dari diri saya setelah membaca ayat-ayat Allah?

Jika Al-Qur’an berbicara tentang kejujuran, apakah kita semakin jujur? Jika Al-Qur’an berbicara tentang amanah, apakah kita semakin amanah? Jika Al-Qur’an berbicara tentang kasih sayang, apakah kita semakin penyayang? Jika Al-Qur’an melarang kesombongan, apakah kita semakin rendah hati? Karena Al-Qur’an bukan hanya kitab untuk dibaca. Al-Qur’an adalah petunjuk untuk dijalani.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Maka jangan kita ukur keberhasilan Ramadan hanya dari banyaknya makanan yang kita tinggalkan. Ukurlah dari dosa yang kita tinggalkan. Jangan hanya ukur dari berapa juz Al-Qur’an yang kita baca. Ukur juga dari seberapa jauh Al-Qur’an membentuk akhlak kita. Jangan hanya ukur dari berapa kali kita datang ke masjid. Ukur juga dari seberapa baik kita menjadi manusia setelah keluar dari masjid. Dan jangan hanya bertanya: “Apakah saya telah selesai berpuasa?”

Tetapi tanyakan:

“Apakah puasa telah selesai mendidik saya?” Sebab Ramadan akan berakhir. Hari-hari akan berlalu. Masjid akan kembali kepada suasana seperti biasa. Saf tarawih akan berkurang. Takbir Idulfitri akan berkumandang. Tetapi pertanyaan terbesar justru dimulai setelah Ramadan: Apa yang tersisa dari Ramadan dalam diri kita?

Jika setelah Ramadan kita masih lebih sabar, itu buah Ramadan. Jika setelah Ramadan kita lebih jujur, itu buah Ramadan. Jika setelah Ramadan kita lebih rajin salat, itu buah Ramadan. Jika setelah Ramadan kita lebih dekat dengan Al-Qur’an, itu buah Ramadan. Jika setelah Ramadan kita lebih peduli kepada orang miskin dan anak yatim, itu buah Ramadan. Jika setelah Ramadan kita lebih mampu mengendalikan hawa nafsu, itu buah Ramadan. Dan jika semua itu tumbuh dalam kehidupan kita, maka mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang memperoleh tujuan puasa:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kalian bertakwa.”

Semoga Allah menjadikan Ramadan kita bukan hanya Ramadan yang lapar dan haus, tetapi Ramadan yang menghidupkan hati, membersihkan jiwa, memperbaiki akhlak, memperkuat kepedulian, dan meningkatkan ketakwaan.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ.

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون

 

Oleh: (MIW)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top