Call Us
085787679868

Email Us
info@nurulquranbogor.com

HAJI WADA’ DAN TURUNNYA AYAT TERAKHIR YANG MEMAKNAI LEBIH DALAM MOMEN HARI RAYA IDUL ADHA

Bagikan:

 اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ

اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْ وَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ.. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُؤْمِنِينَ عِيدًا بَعْدَ عِبَادَةٍ، وَفَرَحًا بَعْدَ طَاعَةٍ، وَنُورًا بَعْدَ عَرَفَةَ وَالتَّكْبِيرِ وَالِاسْتِغْفَارِ.اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ 

MA’ASYIRUL MUSLIMIN WAL MUSLIMAT, WA ZUMROTAL MU’MININ WAL MUNINAT AS’ADAKUMULLAH

Di pagi hari yang begitu cerah dengan rasa penuh bahagia dan ceria, kita suarakan, lantunkan, gemakan semarak takbir “Allahu Akbar” seraya mengangungkan Allah karena dengan kebesaran-Nya kita diberikan kenikmatan, kesehatan, kemampuan untuk menghirup udara segar, melihat banyak keindahan, mendengar lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an hingga dapat mempertemukan kita di tempat yang mulia bersama saudara-saudari sebangsa, seiman.

Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar!

JAMA’AH SHOLAT IDUL ADHA YANG SAMA-SAMA DIRAHMATI ALLAH SWT

Idul Adha atau Hari Raya Berqurban merupakan hari besar Islam yang setiap tahun kita rayakan penuh dengan kekhidmatan dan rasa syukur yang mendalam. Di saat jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia berdatangan dan berkumpul di tanah suci, Makkah al-Mukarromah untuk melaksanakan ibadah haji. Kita pun turut ikut serta di dalamnya dengan melaksanakan ibadah sholat sunnah Idul Adha lalu dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban sambil terus menerus memuji kebesaran Allah, sang pencipta alam semesta.

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillahil Hamd

JAMA’AH SHOLAT IDUL ADHA YANG SAMA-SAMA DIRAHMATI ALLAH SWT

Momen Idul Adha tidak hanya mengingatkan kita pada peristiwa bersejarah daripada pengorbanan Nabiyuna Ibrahim Alaihissalam dan Nabiyuna Ismail Alaihissalam. Idul Adha atau bulan haji juga mengingatkan kita pada satu momentum perjalanan penting dalam sejarah Islam di bawah kepemimpinan Baginda Nabi Muhammad SAW saat melaksanakan Haji Wada’ bersama para sahabat-sahabatnya. Haji Wada’ yang merupakan Haji Akbar yang menjadi ibadah haji pertama sekaligus terakhir yang ditunaikan oleh Sayyiduna Muhammad Rasulallah SAW pada tahun 10 Hijriah.

Pada saat Haji Wada’ bertepatan di hari Arafah pada sore hari di hari Jum’at, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan firman-Nya yang dimana ayat ini oleh sebagian ulama tafsir disebut sebagai ayat terakhir tentang hukum halal maupun haram yang diturunkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, tepat 81 hari sebelum beliau wafat.  Ayat ini tertulis dalam surat Al-Maidah ayat 3 (Juz 5) dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣

Artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang (sempat) kamu sembelih. (Diharamkan pula) apa yang disembelih untuk berhala. (Demikian pula) mengundi nasib dengan azlām (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. Oleh sebab itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Maka, siapa yang terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Salah satu pesan penting dan reflektif dalam ayat ini adalah riwayat yang dicatatkan dalam Tafsir Ibn Katsir tentang tanda-tanda telah sempurnanya Islam sebagai Agama yang diridhoi Allah dan berakhirnya risalah kenabian Baginda Rasulallah ﷺ, yakni:

 لَمَّا نَزَلَتْ: ﴿ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ﴾، وَذَلِكَ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ، بَكَى عُمَرُ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا يُبْكِيكَ؟» قَالَ: أَبْكَانِي أَنَّا كُنَّا فِي زِيَادَةٍ مِنْ دِينِنَا، فَأَمَّا إِذَا أَكْمَلَ فَإِنَّهُ لَمْ يَكْمُلْ شَيْءٌ إِلَّا نَقَصَ، فَقَالَ: «صَدَقْتَ». وَيَشْهَدُ لِهَذَا الْمَعْنَى الْحَدِيثُ الثَّابِتُ: «إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.

Ketika turun ayat:

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian…”

Dan peristiwa itu terjadi pada Haji Akbar, Sayyiduna Umar kemudian menangis.

Nabi ﷺ bertanya kepadanya:مَا يُبْكِيكَ؟ ‘Apa yang membuatmu menangis?’

Sayyiduna Umar Radhiyallahu ‘Anhu kemudian menjawab:

أَبْكَانِي أَنَّا كُنَّا فِي زِيَادَةٍ مِنْ دِينِنَا، فَأَمَّا إِذَا أُكْمِلَ، فَإِنَّهُ لَمْ يُكْمَلْ شَيْءٌ إِلَّا نَقَصَ

‘Yang membuatku menangis adalah karena selama ini agama kita terus mengalami penambahan. Namun apabila sesuatu telah mencapai kesempurnaan, maka tidak ada sesuatu yang sempurna melainkan setelah itu akan mengalami pengurangan.’

Maka Nabi ﷺ bersabda:  صَدَقْتَ ‘Engkau benar.’

Makna ini kemudian diperkuat oleh hadis yang sahih dalam yang dituliskan dalam Sunan Ibn Majah dan Shahih Muslim:

سنن ابن ماجه ٣٩٧٦: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَيَعْقُوبُ بْنُ حُمَيْدِ بْنِ كَاسِبٍ وَسُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Sunan Ibnu Majah 3976: Telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Ibrahim] dan [Ya’qub bin Humaid bin Kasib] serta [Suwaid bin Sa’id] mereka berkata: telah menceritakan kepada kami [Marwan bin Mu’awiyah Al Fazari] telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Kaisan] dari [Abu Hazim] dari [Abu Hurairah] dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam pertama kali muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing pula, maka beruntunglah bagi orang-orang yang terasing.”

Siapakah yang dimaksud Ghuraba disini?

Sejumlah imam ahli hadis menambahkan dalam riwayat lain bahwa:

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! مَنِ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: «الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ .وَفِي اللَّفْظِ الْآخَرِ: يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ سُنَّتِي

“Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing (Ghuraba) itu?’ Beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia telah mengalami kerusakan.’ Dalam redaksi lain disebutkan: ‘Mereka memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnahku.

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillahil Hamd

JAMA’AH SHOLAT IDUL ADHA YANG SAMA-SAMA DIRAHMATI ALLAH SWT

Melalui riwayat-riwayat yang disebutkan tadi kita dapat mengambil pelajaran penting dalam momentum Idul Adha tahun ini, sebagai berikut:

Pertama, ada masa ketika sebuah kebaikan terasa biasa karena banyak orang melakukannya, tetapi ada pula masa ketika kebaikan justru terasa asing. Kejujuran dapat dianggap naif, kesederhanaan dianggap tidak mengikuti zaman, menjaga lisan dianggap berlebihan, sementara kemaksiatan yang dilakukan bersama-sama perlahan dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Dalam keadaan seperti itu, seorang Muslim tidak boleh menjadikan banyaknya orang sebagai satu-satunya ukuran kebenaran. Ia perlu memiliki keberanian untuk tetap memegang nilai yang diyakininya benar, sekalipun tidak selalu mendapatkan tepuk tangan. Sebab, istiqamah bukanlah kemampuan untuk selalu menjadi berbeda, melainkan kemampuan untuk tetap benar ketika lingkungan tidak lagi memberikan alasan untuk bertahan.

Kedua, Islam tidak mengajarkan kita untuk merasa paling suci ketika melihat masyarakat berubah. Orang yang melihat kerusakan lalu hanya mencela belum tentu sedang melakukan iṣlāḥ (hal-hal baik). Seorang gharīb justru bertanya, “Apa yang dapat saya perbaiki?” Ketika keluarga mengalami keretakan, ia berusaha menjadi peneduh. Ketika lingkungan dipenuhi kebencian, ia menghadirkan persaudaraan. Ketika pendidikan kehilangan keteladanan, ia berusaha menjadi teladan. Ketika media sosial dipenuhi fitnah dan pertengkaran, ia memilih menyebarkan ilmu dan kedamaian.

Dengan demikian, kesalehan tidak berhenti pada kemampuan menjaga diri dari keburukan, tetapi berkembang menjadi kemampuan menghadirkan kebaikan bagi kehidupan orang lain.

“Kita tidak dipanggil untuk sekadar menjadi orang baik di tengah zaman yang buruk; kita dipanggil untuk menjadi sebab mengapa keadaan itu perlahan menjadi lebih baik.

Begitulah seharusnya Idul Adha yang kita rayakan ini dimaknai sebagai hari yang seharusnya dapat semakin menyadarkan kita pentingnya keteguhan dalam menjaga dan mempertahankan Aqidah dan Tauhid terhadap diri kita, keluarga kita, anak-anak kita, lingkungan kita semata-mata karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala meskipun hal itu terasa asing di tengah zaman yang terbolak-balikan seperti sekarang ini.

Tidak banyak hal yang bisa kita lakukan selain memohon kepada Allah agar Iman, Islam, dan Ihsan kita dapat diistiqomahkan dan dijaga dari segala fitnah akhir zaman yang bisa menjerumuskan orang-orang ke dalam ketersesatan dan keberpalingan dari Allah, oleh karena itu, mari kita jadikan Idul Adha ini sebagai tahun komitmen kita dalam mengontrol hawa nafsu kita yang disertai dengan perjuangan-perjuangan yang mengorbankan jiwaraga kita demi meraih ridho dan rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillahil Hamd

   بسم الله الرحمن الرحيم قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّي وَ ذَكَرَ اسْمَ رَبًِهِ فَصَلَّي بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّه هُوَالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

 

Oleh: MIW

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top