Call Us
085787679868

Email Us
info@nurulquranbogor.com

PESAN HIJRAH DI BALIK KEISTIMEWAAN BULAN MUHARRAM (SYAHRULLAH)

Bagikan:

Muharram

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. أَمَّا بَعْدُ،

فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون. قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jama’ah Sholat Jum’at yang Dirahmati Allah

Di hari yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan ini, mari kita jadikan momen setiap jum’at kita sebagai waktu dan kesempatan terbaik untuk senantiasa bermuhasabah diri. Apakah kita telah melaksanakan dengan baik kewajiban kita sebagai seorang muslim? Apakah semakin bertambahnya usia kita, semakin juga bertambah kedekatan kita kepada Allah? Dan Seandainya Allah panggil kita hari ini, apakah kita sudah benar-benar siap untuk menghadap-Nya?

Oleh karenanya, tidak ada pesan yang paling indah dalam setiap khutbah jum’at selain pesan ajakan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Taqwa dalam arti menjauhkan diri kita dari adzab Allah dengan mengikuti dan mentaati segala apa yang telah Ia perintahkan pada kita, serta menjauhi segala larangan-larangan-Nya.

Jama’ah Sholat Jum’at yang Dirahmati Allah

Hari ini kita memasuki salah satu momentum penting dalam perjalanan waktu kita sebagai seorang Muslim yakni bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah.

Dalam Surat At-Taubah ayat 36, Allah SWT berfirman:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu (QS At Taubah: 36).

 

فعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulallah bersabda:

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah, Muharram, dan sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.”

Maka muncul dalam benak pikiran kita selanjutnya; Apa yang membuat bulan ini dinilai begitu mulia dan Istimewa sehingga menjadi bulan pertama dalam kalender hijriah? Bukankah Hijrahnya Baginda Nabi Muhammad SAW itu dilakukan pada bulan Rabiul Awwal? Lalu, kenapa justru bulan Muharram yang dijadikan awal bulan dalam tahun hijriah?

Dalam kitab Fathul Barri (7/268), Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa awal bulan Muharram memang bukanlah hari hijrahnya Baginda Nabi Muhammad SAW akan tetapi keputusan untuk berhijrah itu dilakukan pada awal bulan Muharram setelah selesainya musim haji, dimana saat itu sumpah setia (bay’ah) kaum Anshar terjadi selama bulan Dzul al-Hijjah sehingga ini menjadi alasan terkuat yang menjadikan keabsahan mulainya tahun Hijriyah dari bulan Muharram.

Jama’ah Sholat Jum’at yang Dirahmati Allah

Dari kisah dan latar belakang ini, kita bisa mengambil hikmah besar tentang betapa pentingnya niat itu di dalam Islam. Niat yang menjadi awal untuk memulai dan bergerak menuju arah perubahan yang lebih baik, niat yang tidak hanya sekadar diucapkan namun juga tertanam di dalam hati dan iman seseorang sehingga dapat dilaksanakan di masa mendatang meskipun harus dilakukan secara bertahap. Begitulah peristiwa hijrah Muharram ini mengajarkan kita.

Sudahkah kita mengerti niat hidup kita di dunia? Sudahkan kita mengerti kemana arah tujuan kita sebenarnya akan berlabuh? Dan sudahkah kita mengerti arti hijrah yang sesungguhnya dalam hidup ini?

Jama’ah Sholat Jum’at yang Dirahmati Allah

Muharram membawa kita pada hikmah pentingnya meluruskan niat dalam hidup agar niat tidak hanya sekadar menjadi ucapan tapi juga keinginan yang benar-benar serius untuk melakukan perubahan. Dari yang sudah baik menjadi lebih baik lagi, dan dari yang barangkali belum baik menjadi pribadi yang bisa menuju kebaikan-kebaikan di masa depan.

Dalam pembukaan hadits Arbain karya Al-Imam An-Nawawi disebutkan sabda Nabi Muhammad SAW:

عَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya: “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan apa yang ia niatkan. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Muharram juga mengajarkan kita hikmah pentingnya memiliki tujuan dalam hidup.

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162)

Hijrahnya Baginda Nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah menuju kota Madinah bukan sekadar perpindahan satu tempat yang mulia ke tempat mulia lainnya melainkan sebuah perjalanan panjang yang bertujuan untuk membebaskan umat dari penindasan, kebodohan, kesengsaraan, dan ancaman menuju umat yang memiliki peradaban, kejayaan dan kemakmuran yang semakin meneguhkan iman serta mengokohkan persatuan umat Islam di kemudian hari.

Selain itu, Muharram mengajarkan kita makna hijrah yang sesungguhnya. Hijrah yang bukan karena ikut-ikutan tren semata, hijrah yang bukan dimaknai sebagai perubahan sementara saja, hijrah yang bukan sekadar janji palsu dalam mengucap setia, melainkan hijrah sesuai dengan ajaran Baginda Nabi dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:

المهاجرهو من هجر ما نهى الله عنه

“Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hijrah yang sesungguhnya adalah perubahan yang bukan hanya berfokus pada fisiknya saja (lahiriah) atau sesuatu yang menempel pada dirinya, melainkan juga hijrah pada batiniyyah atau spiritualnya yang menjadi fondasi sekaligus akar bagi kemunculan hijrah lahiriyah seseorang. Dengan kata lain, seseorang yang berhijrah tulus karena Allah maka ia akan beranjak dengan sungguh-sungguh dari belenggu ego hawa nafsunya menuju keridhaan dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. (إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا)، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَارْضَ اللّهم عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ،ساداتنا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ والتابعين وتابع التابعين وَالصَّالحينَ لهم بإحسان إلى يوم الدين.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَأَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَعْمَالِنَا. اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عَامَنَا هَذَا عَامَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ وَهُدًى وَرَحْمَةٍ، وَاجْعَلْنَا فِيهِ مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ. اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَنَا، وَاحْفَظْ أَوْلَادَنَا، وَبَارِكْ فِي أُسَرِنَا، وَأَصْلِحْ مُجْتَمَعَنَا، وَاجْعَلْنَا عِبَادًا نَافِعِينَ لِدِينِنَا وَأُمَّتِنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top